Di tengah hiruk-pikuk perpolitikan nasional, Partai Golkar kembali akan menyongsong Hari Ulang Tahun (HUT)-nya yang ke-47. Momentum ini terasa lebih memiliki makna, mengingat masa dua tahun kepemimpinan Aburizal Bakrie ini akan diuji sejauh mana tahapan dan pencapaian politiknya dalam menakhodai kepemimpinan Partai Golkar.

Kerangka tahapan dan pencapaian itu cukup jelas tergambar dalam program Catur Sukses yang dicanangkan Ical sejak terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar dalam Munas VIII di Pekanbaru, Riau. Catur Sukses berisikan empat program utama, yakni konsolidasi internal, kaderisasi dan rekruitmen keanggotaan yang lebih terbuka, penciptaan kreativitas, ketajaman ide dan pemikiran baru, serta sukses pemilihan kepala daerah, pemilihan legislatif dan pemilihan presiden.

Setelah menjalani masa awal konsolidasi yang panjang dengan sederet persoalan internal warisan masa sebelumnya, tibalah biduk partai ini pada Tahun Kaderisasi. Partai Golkar menetapkan 2011 sebagai tahun yang menempatkan urgensi program kepartaian terfokus pada penciptaan kader-kader partai militan dan tercerahkan. Merekalah yang akan berada di garda terdepan, berinteraksi dengan masyarakat, menciptakan kultur kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai demokrasi dan mengidentifikasi jati diri Golkar yang dilandasi ideologi dan semangat kekaryaan.

Begitu pentingnya kaderisasi dan peran kader ini, hingga digambarkan oleh Ical sebagai akar bagi pepohonan. Sepanjang akar tersebut basah, sepanjang itu pula pohon akan tetap hidup. Ranting beringin bisa patah, dahan dan daunnya pun bisa meranggas. Namun, jika akarnya basah, beringin ini akan tetap bisa bertahan. Sebaliknya, meski daunnya hijau dan batangnya kokoh, tapi akarnya busuk atau kering, cepat atau labat, beringin itu akan mati.

Masa-masa awal reformasi cukup menggambarkan betapa akar yang basah mampu mengokohkan pohon beringin, meski ranting dan dedaunnya sedang tercabik. Militansi dan ketercerahan kader mampu mengemban beban partai yang sedang terpuruk, hingga merubah paradigma kepartaian yang secara umum terangkum dalam semangat “Golkar Baru”. Kondisi itulah yang kurang-lebih sedang berlangsung saat ini. Meski dengan dinamika yang relatif kompleks, di tengah tingkat kepercayaan (trust) publik kepada partai politik yang sedang merosot, peran kader menjadi inti kekuatan yang akan senantiasa menopang eksistensi Golkar di masa yang akan datang.

Ujian Kaderisasi Partai GolkarProgram kaderisasi secara intensif telah mengukuhkan soliditas kepartaian, hingga tidak tergoyahkan oleh beragam kondisi dan isu yang memungkinkan partai ini terlibat dalam suasana yang tidak menguntungkan. Giatnya program kaderisasi juga menggiring eksistensi Golkar sebagai partai yang tidak terbawa arus dan langgam sensitivitas publik yang cenderung negatif di mata publik.

Pada titik tertentu, partai ini mampu memilah dan memilih isu yang lebih strategis dan memiliki daya rekat, mengawal ide dan wacana besar tentang konstruksi kebangsaan dan keindonesiaan, serta memproduksi solusi-solusi yang sejalan dengan cita-cita kehidupan berbangsa dan bernegara. Partai ini tiada henti menegaskan eksistensinya sebagai partai yang lebih terbuka, mandiri dan demokratis. Identifikasi sebagai partai nasionalis pun menuntutnya untuk senantiasa bergerak dalam garis (khittah) kepentingan yang bisa dinikmati oleh segenap masyarakat dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Ratusan ribu kader dan simpatisan Partai Golkar yang akan memenuhi Stadion Gelora Bung Karno (GBK), pada 29 Oktober 2011 akan datang, kiranya bukanlah sekedar peristiwa seremonial belaka. Memomentum HUT ke-47 ini menjadi ajang refleksi bagi seluruh elemen Partai Golkar tentang sejauh mana pencapaian tahapan program Catur Sukses itu sendiri. Secara khusus, Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) DPP Partai Golkar yang akan digelar pada 26-29 Oktober 2011 hendaknya mengurai kekurangan dan keberhasilan kaderisasi yang berlangsung sepanjang 2011 ini.

Peristiwa seremonial tentu tidak akan pernah memberikan jawaban siginifikan bagi dahaga publik tentang realitas partai politik yang sejati. Tentang sebuah realitas yang mengakomodasi kepentingan rakyat dengan berbagai program kerakyatan yang tidak hanya bisa dinikmati sesaat. Nilai-nilai pragmatisme yang identik dengan suasana kepartaian akan diminimalisir dan tergerus dengan sendirinya, tatkala sistem kaderisasi berjalan dengan baik dan sungguh-sungguh. Karena itulah program kaderisasi menjadi agenda strategis dalam upaya menumbuhkan kultur politik modern dalam partai politik. Kaderisasi juga merupakan agenda pokok dalam mendorong regenerasi kepemimpinan dalam partai, secara khusus, dan bangsa, secara umum.

Catur Sukses memberi paradigma baru bagi kultur politik modern yang menempatkan kaderisasi sebagai program utama demi meraih kesuksesan dan tujuan kepartaian. Penguatan sistem internal yang meliputi konsolidasi dan kaderisasi adalah gambaran penting betapa penguatan internal lebih utama dari sekedar hingar-bingar massa yang bersifat sesaat. Hingga pada titik tertentu, hingar-bingar itu akan lebih bermakna dengan dilandasi kesadaran dan militansi yang penuh. Ajang seremonial pun pada akhirnya lebih menyentuh dan memberi kesan mendalam sebagai bagian dari kader, bukan sekedar simpatisan.

Meski demikian, menciptakan kader militan dan tercerahkan bukanlah perkara mudah. Diperlukan perhatian penuh, tulus, konsisten, terarah dan berkelanjutan. Berbagai acara perkaderan tidak bisa dianggap selesai hanya pada saat penutupan acara, tanpa mengikuti road map kaderisasi itu sendiri. Bekal pendidikan dan pembinaan diwariskan secara berkelanjutan kepada masyarakat, hingga menampakkan nilai karya nyata yang diwariskan oleh Partai Golkar. Jika tidak, berbagai acara perkaderan tersebut tidak ubahnya seremonial yang juga akan jatuh dalam kubangan pragmatisme. []

Penulis adalah Ketua Umum Angkatan Muda Partai Golkar