Blog Kena

 
Reformasi TNI-Polri, sebuah pemikiran
16. Februari 2012 - 13:57 | by Ken Aulia

Reformasi TNI-Polri, sebuah pemikiran

Bagian -1-

Belakangan ini sering diberitakan mengenai rencana pembelian Panser Leopard A5&A6 oleh TNI-AD. Rencana ini sudah ditolak parlemen Belanda dan ditanggapi secara negatif oleh DPR kita.

Mengapa TNI-AD ngotot ingin membeli panser raksasa yang sepertinya tidak cocok untuk beroperasi di hutan2 rimba nusantara atau terlalu berat dan besar untuk melewati jalan2 di daerah pedesaan?

Alasan yang pastinya mungkin hanya diketahui oleh Allah swt dan para petinggi TNI-AD, kita hanya bisa menduga dari komentar dari pihak militer kita.

Yang pasti, rencana pembelian perangkat perang TNI-AD secara besar2 an ini dilakukan bersamaan dengan pembelian besar2 oleh TNI-AU dan TNI-AL. Beberapa hari yang lalu Kasad bilang bahwa dlm pembelian ini tidak ada yang diistimewakan. Peryataan ini bisa diartikan, kalau AU&AL belanja besar2an, kita (TNI-AD) mau juga donk.

Permasalahannya adalah mengenai prioritas kebutuhan. Secara umum dapat dipahami bahwa sebagai negara kepulauan yang sangat luas, Indonesia memerlukan angkatan laut dan udara yang kuat. Akan tetapi semenjak tahun 1966 AL dan AU "dikebiri" oleh para pembuat kebijakan militer di negara kita. Sebagai illustrasi ketidak setimbangan kekuatan: TNI-AD mempunyai sekitar 94 batalyon infantri belum termasuk Kopassus, sedangkan TNI-AL hanya punya 9 batalyon infantri marinir (tambah 2 batalyon intai amfibi+ sekitar 300 Pasukan Katak + Denjaka).

Mungkin komposisi pasukan infantri TNI-AD yang jauh melebihi TNI-AL secra sekilas dianggap wajar, tetapi harus tetap diingat kita adalah negara kepulauan (ratusan ribu). Bila dalam konsep pertahanan yang dianggap musuh adalah kekuatan asing (luar negeri) maka penjagaan pantai yang sangat luas+wilayah laut berdasarkan ZEE jauh membutuhkan perhatian dibandingkan menghantam musuh di daratan.

Tentu hal ini akan berbeda bila definisi musuh adalah semua pihak yang dianggap "mengacaukan" keamanan baik dari orang asing maupun anak bangsa sendiri, mungkin kondisi saat ini bisa diterima.

Sayang nya, konsep yang ada sekarang menjadi dilema. Meskipun tidak terlalu diekspos oleh media, rasa ketidak percayaan rakyat thd TNI semakin berkurang. Memang "image" TNI tidaklah seburuk Polri, akan tetapi sangat disayangkan bila TNI yang seharusnya bersatu padu dengan rakyat, rela berkorban jiwa dan raga, menjadi harapan rakyat dalam hal keamanan dan martabat bangsa malah berbalik menjadi sesuatu yang mengganjal bahkan cendrung untuk dijauhi.

TNI haruslah mereformasi dirinya, dengan mengubah difinisi musuh negara. Pertahanan thd. kekuatan asing haruslah menjadi fokus utama TNI. Jangaln lagi dibenturkan antara TNI dan rakyat, karena keduanya saling membutuhkan bahkan merupakan suatu kesatuan yang erat dan suci.

- Bagian 2-

Perubahan TNI-Polri dlm konsep penegakakkan hukum, pemelihara ketertiban, dan pertahanan negara.

Bila TNI-AD mau fokus thd acaman dari luar, maka hrs ada yg mengisi peran2 pemeliharaan ketertiban. Salah satu alternatifnya adalah penerapan BRIMOB.

Brimob berdasarkan sejarahnya merupakan Gendamarie atau polisi paramiliter, idealnya harus terpisah dari Polisi yg berperan sebagai penegak hukum dan pengayom masyarakat.

Keuntungan dari peran baru ini adalah:

1. Meniadakan konflik antara masyarakat dan TNI, sehingga menimbukan rasa kepercayaan yg tinggi.
2. Mengurani konflik antara masyarakat dan Polri, -idem-

Krn. peran BRIMOB khusus utk pemeliharaan ketertiban, meskipun kesanya jadi "tukang cuci piring" tapi krn fokus, metoda dan strategi mrk bisa berkembang sehingga mengurangi konflik2 yang ada.

Contoh: krn fokus, pengelolaan huru-hara oleh Brimob (baru) bisa jauh lebih baik dibandingkan oleh TNI (yg tugasnya perang) dan Polis (yg. tugasnya penegak hukum).

Anti teror dan separatis, kalau dari dlm negeri hrs dilawan oleh Brimob. TNI menjaga agar kel. separatis tidak mendapat senjata dari luar. Atau bisa keluar masuk RI (utk dapat dukungan personil atau senjata). Bgitu bentuk kerjasama yang ideal.

Polisi, hrs. mengubah pula paradigmanya. Krn.soal ketertiban urusan Brimob. Hubungan dengan masyarakat bisa lebih mesra. Syarat masuk polri harus ditinggkatkan. Kl. sopir Transjakarta saja diminta sarjana, masak utk polri lebih rendah, meskipun bukan kewajiban. AKPOL jangan langsung lulus jadi perwira. Mulai dari bawah dulu sama2 semua. Biar semangat pengabdian lebih besar, jangan nanti pikiran cuman kenaikan pangkat doank.

- Bagian 3-

Bila dibandingakan antara Malaysia dan Indonesia, sbnrnya kita lebih dulu dlm membangun militer kita. Bahkan hingga th. 80 an Malaysia masih sering berguru kepada kita. Tapi bila dilihat prestasi reputasi akhir2 ini sptnya mereka lebih baik dari kita, sebagai contoh:

1. Operation Dawn 9. Paskal Malaysia mampu menangkap pembajak somalia yang berusaha membajak kapal Malaysia. Memang kondisinya beda dgn. kapal kita yg dulu dibajak. Tapi kenyataan bahwa mereka bisa berada disana dan mampu dengan cepat memberikan bantuan, menunjukan kelebihan militer mereka dlm melindungi warganya. (Bkn berarti Paskal lebih baik dari Kopassus atau Denjaka, dll. Semua pasukan elit itu yg terbaik dari yg terbaik.). Dan beberapa operasi lainnya yg sukses menghalau para perompak somalia yg mengancam kapal malaysia dan negara lain.

2. Oprasi internasional termasuk upaya pembebasan ranger dan delta forces amerika dari pertempuran di Mogadishu bersama pasukan AD Pakistan (Black Hawk Down).

oleh Ken Aulia