Blog Kena
Dalam dua minggu belakangan ini ada dua kejadian politik besar yang cukup
bermanfaat untuk dijadikan pelajaran.
Pertama adalah kemenangan François Hollande atas Nicolas Sarkozy dalam
memperebutkan jabatan presiden prancis. Kedua, adalah kemenangan Hannelore Kraft
atas Norbert Röttgen untuk menjadi pemimpin di salah satu negara bagian di
jerman (north rhein westphalia-NRW).
Karena terjadi pada tataran nasional maka contoh pertama mendapatkan porsi
ulasan media internasional yang cukup besar, sedangkan contoh kedua yang terjadi
pada skala regional kurang mendapat perhatian dari luar negeri. Meskipun
sebenarnya pilkada di NRW sering disebut sebagai miniatur pemilu nasional,
karena NRW merupakan negara bagian terbesar di Jerman.
Akan tetapi karena banyaknya kesamaan antara dua kejadian tersebut, maka ada
baiknya bila kita lihat beberapa point penting yang bisa dijakan pelajaran.
1. Kepemimpinan rendah hati.
Satu kesamaan nyata antara Hannelore dan Hollande adalah sifat rendah hati dan
simpatik. Berbeda dengan Sarkozy yang konfrontatif, Hollande berusaha mendekati
para calon pemilih dari semua level.
--Perancis--
Meskipun merupakan lulusan sekolah elit Ecole Nationale d'Administration, bilau
tidak segan2 turun ke daerah2 kumuh di perancis untuk mendengar dan berdiskusi
dengan kalangan yang dianggap "sampah masyarakat" itu. Kebalikannya, boro2
mengunjungi, Sarkozy tidak pernah sekalipun selama kepemimpinannya mau
memperdulikan nasib masyarakat yang terpinggirkan tersebut.
Sifat tak simpatik, anti imigran dan anti Islam dari Sarkozy sudah terlihat
mulai sejak dia menangangi kerusuhan di perancis tahun 2005. Pelarangan
penggunaan jilbab di sekolah, pelarangan pengunaan nikab di tempat umum, dan
pelarangan penyangkalan pembunuhan massal armenia merupakan hasil dari
pemerintahan Sarkozy.
--NRW, Jerman--
Sebelum kita mengulas pertarungan politik ini lebih lanjut ada baiknya untuk
memahami kondisi psikologi kaum konservatif kristen jerman belakangan ini.
Hingga kira2 dua tahun yang lalu, kaum konservatif kristen punya satu politisi
bintang muda Karl-Theodor Freiherr zu Guttenberg (Karl-Theodor, adipati dari
keluarga Guttenberg-suatu keluarga bangsawan yg. telah berumur ribuan tahun).
Tampan, muda, cerdas, berwibawa, berkharisma, berasal dari keluarga bangsawan
dan memiliki istri yang cantik. Pokonya memang merupakan figur ideal bagi
kalangan ini. Tapi karena tersangkut suatu kasus maka karir politinya jatuh dan
kaum konservatif kehilangan figur berbakat mereka.
Perhatian pun beralih pada Nobert Röttgen (menteri lingkungan hidup), seorang
politis muda yang sangat cerdas dan tampan. Saya pribadi melihat Röttgen sebagai
calon kanselir yang sangat potensial. Di bawah kepemimpinannya jerman mengalami
perubahan kebijakan energi yang sangat fundamental dan fenomenal, yaitu keluar
dari penggunaan energi nuklir. Seperti pekerjaan yang mustahil bagi suatu negara
industri nomer 3 terbesar di dunia untuk tidak menggunakan energi nuklir.
Maka ketika Nobert Röttgen memutuskan untuk maju dalam pilkada NRW, kaum
konservatif kristen seperti mendapat angin surga. Sebelum masa kampanye resmi
dimulai, suara pendukung Hannelore yang sosialis dan Röttgen sebenarnya mirip2
sekitar 30%.
Hannelore Kraft tidaklah memiliki kharisma, tampilan fisik dan kecerdasan yang
dimiliki Röttgen. Akan tetapi sebagai laiknya ibu-ibu dia mampu menunjukan
kepemimpinan yang simpatik dan mengayomi. Taman kanak2 didatangi, orang2 di
jalanan diajak diskusi dari hati ke hati. Saya ikuti kegiatan beliau dari
facebooknya. Ngak neko2 dan selalu berusaha memegan omongannya. Karena beliau
orang sederhana, pola fikirnya lurus. Tidak penuh trik2 atau tipu daya.
Karenanya bisa dipercaya oleh rakyat.
Kebalikannya, Röttgen meksipun sangat pintar, tapi ternyata kurang bisa
berempati dengan rakyat. Ketika berdiskusi dengan rakyat di jalanan jadi rada
nyombong dan kesanya dibuat-buat (ngak biasa diskusi dengan rakyat jelata).
Karena pola fikirnya penuh dengan intrik, jadi omongannya ngak bisa dipegang.
Sekarang bilang A besok bilang B. Sering ragu dan ngak jelas maunya apa.
(Sepertinya kalau pemimpin sering ragu ini bisa jadi indikator kalau pola
fikirnya penuh intrik).
Hasilnya, hanya dalam hitungan minggu, suara pendukung Röttgen turun dari
sekitar 30% jadi 20%, sedangkan saingannya naik dari 30% hingga 40% lebih.
2. Kemenangan sosialis.
Kemenangan Bu Kraft dan Hollade ini merupakan kemenangan kaum sosialis terhadap
kaum konservatif. Ini merupakan pertanda bahwa rakyat memilih pemimpin yang
memang mau memperjuangkan nasib mereka, bukan hanya bekerja demi kepentingan
kelompok elit atau kekuatan kaum kapitalis global. Jadi ketampanan, ketenaran
dsb. tidak akan ada gunanya bila memang tidak benar2 bekerja untuk rakyat.
Hollande bilang naikan pajak bagi orang sangat kaya, sedangkan Sarkozy bilang
potong bantuan buat orang miskin.
Kraft bilang pekerja out sorcing harus digaji sama dengan yang tetap, sedangkan
Röttgen ingin pecatin para pns. Kraft juga ingin menghapus sistem sekolah elit*,
sedangkan Röttgen ingin melindungi sekolah2 elit tadi (mungkin bisa dianalogikan
dengan sekolah standar internasional di Indonesia--meski jauh sih padanannya).
Jadi memang jelas kenapa menang dan kalah.
Wassalam
Ken
PS. soal sekolah elit ini memang jadi momok. Di jerman setelah sekolah dasar
selama 4 tahun, ada tiga penjurusan: Gymnasium, Realschüle dan Hauptschüle.
Awalnya, Gymnasium untuk mempersiapkan calon mahasiswa, sedangkan yang sisanya
disiapkan untuk pendidikan kejuruan. Tapi sekarang kalau tidak lulus gymnasium
sebenarnya hampir tidak ada harapan untuk dapat kerja. apalagi kalau dari jenis
sekolah yang paling rendah.
Bagi pada pendukung gymnasium, mereka berpendapat para siswa yang pintar harus
dipisahkan sedini mungkin untuk mendapat dorongan yang lebih. Akan tetapi bagi
para penentang gymnasium, pemisahan yang dilakukan dalam tahap yang dini ini
bisa mematikan masa depan para generasi muda meski saat itu mereka baru berumur
10 tahunan saja.